Ingatlah Kematian Selalu Mengintaimu

Ada kehidupan pasti akan ada kematian. kematian itu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. kematian adalah akhir dari kehidupan dunia, namun bukan berarti akhir dari segala-galanya. sesudah kematian ada kehidupan yang lebih kekal dan lebih panjang, yaitu kehidupan akhirat.

Rasulalloh SAW. bersabda, "Kalau sekiranya manusia mengetahui mati, maka mereka tidak akan pernah makan enak, apalagi sampai menggemukan badannya".
Rasulallah menambahkan bahwa, " hadiah yang paling berharga bagi seorang mukmin adalah mati".
karena dunia laksana penjara baginya, setiap harinya mujahidin selalu bermujahidin melatih dan mendidika hawa nafsunya dengan peraturan dan disiplin ketat, duni tempat memenjarakan nafsu dari kemaksiatan . Meskipun kelihatannya baik tapi akhirnya membawa kelembah kemaksiatan. begitu maut datang,


ia akan terbebas dari nafsu dunia dan angkara murka. Maka maut  adalah hadiah yang paling berharga baginya, karena mati adalah pintu gerbang dari kebahagiaan akhirat".Dalam riwayat yang lain diterangkan, "Kematian menjadi penebus dosa-dosa orang Islam". Meskipun telah menghiasi se
luruh waktunya dengan ketaatan, tetap saja ada dosa-dosa kecil yang tidak sengaja di lakukan.

Dengan merasakan sakitnya sakaratul maut, akan merontokkan sisa dosa-dosa yang ada. Karena
musibah bagi seorang mukmin merupakan anugerah. Dengan musibah dosa-dosanya akan diampuni, dan juga mungkin ada dosa-dosa yang tidak bisa ditebus dengan istighfar, kecuali dengan musibah.

Kita tidak perlu takut menghadapi kematian, karena rasa takut tidak akan dapat menghindarkan diri dari kematian. Semua orang pasti menjumpainya. Tidak usah bersembunyi. Sebab sekecil lubang jarum, malaikat pencabut nyawa akan dapat masuk dan menjemput ajal manusia.
.
Tidak seorang pun (ahli nujum/ para normal) di dunia ini yang dapat memprediksi kapan ruhnya dicabut: Sebab kematian akan mendatangi setiap manusia tanpa izin terlebih dahulu atau memberi kabar. Suka ataupun tidak suka, semua orang tidak akan bisa lepas dari peristiwa itu.

Jika seseorang mau berpikir (rasionalistis) maka ia akan selalu teringat dengan kematian. Jika seseorang ingat akan kematian yang sewaktu-waku menjemputnya, maka akan terdorong lah hatinya untuk menyiapkan bekal. Bekal yang nantinya akan dibutulhkan dikehidupan selanjutnya.

Perjalanan yang ditempuh setelah kematian begitu panjang dan melelahkan. Laksana seorang musafir yang jauh meninggalkan kampung halaman, lalu melewati gurun yang tak pernah
dijumpai mata air atau buah-buahan. Jika tidak membawa bekal dari rumah, maka di tengah jalan ia akan terkapar kelaparan. Sedangkan kematian merupakan perjalanan yang tak mungkin seseorang dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Tak dapat lagi men jumpai negeri yang lama; yaitu negeri fatamorgana (dunia) ini.

untuk merenungkan kematian, alangkah baiknya jika kita berpikir tentang keberadaan diri ini-diri sebagai manusia. Patutlah dipertanyakan kepada diri sendiri, darimanakah kita diciptakan? Ini penting untuk direnungkan. Jika seseorang mau berpikir tentang jati dirinya, maka akan sampai pula kepada masalah ruh dan jasad.
Manusia diciptakan Allah dari dua unsur yang berbeda, yaitu jiwa dan raga (jasad). Jasad ini merupakan materi yang tampak dapat tumbuh berkembang dan dapat pula rusak. Jasad tak akan berarti jika tidak dilengkapi oleh ruh atau jiwa. Oleh karena itu Allah kemudian melengkapi penciptaan makhluk, terutama manusia, dengan jiwa.

Allah swt. berfirman
67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). ( QS. Al-Mu’min 67 )
.
9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [QS. as-Sajdah 9]

Tidak mungkin manusia bisa hidup hanya dengan segumpal daging, sepotong tulang dan selembar kulit. Jasad tiada berarti tanpa kehadiran jiwa. Maka Allah melengkapi dengan ruh (jiwa)
Jadilah manusia sebagai makhluk hidup, bukan benda mati. Setelah itu, coba bandingkan dengan kursi, meja, kotak, atau benda benda lainnya. Kita renungkan, andaikan tubuh ini tidak dilengkapi jiwa (ruh), maka nilainya akan lebih buruk dari benda-benda yang tak bernyawa seperti contoh di atas.

Di sinilah letak ke Maharahmanan Allah. Dia meniupkan ruh ke dalam jasad, maka manusia
pun mempunyai akal pikiran, dapat membedakan yang haq dan batil, bisa hidup dan bekerja. Segumpal dari yang terbentuk berupa sperma dan ovum di dalam rahim ibu masih belum dianggap sebagai makhluk hidup manakala belum dilengkapi ruh. Tetapi ketika Allah meniupkan
ruh ke dalam "benda" itu, maka jadilah ia sebagai makhluk hidup. Di alam kandungan, ia bisa tumbuh dan bergerak yang akhirnya lahirlah sebagai generasi baru.

Ketika jasad yang telah terbentuk sempurna sebagai manusia,  kemudian tiba-tiba Allah memisahkan ruh dari jasadnya, maka manusia tak lagi berarti. la terbujur kaku sebagai bangkai yang
tak berharga sama sekali,
Orang yang mati, ruhnya telah lenyap dari badan. Namun ia masih mempunyai anggota tubuh lengkap. Seperti orang yang sedang tidur saja. Hanya saja tidak bernapas. Mata, telinga, hi dung, mulut dan semua yang ada di kepalanya masih utuh. Namun semuanya tidak berfungsi lagi.

Mayat itu mempunyai telinga secara utuh, tapi tidak bisa mendengar. Matanya juga terbuka tapi tidak bisa melihat apa-apa, Tidak berkedip, tidak melirik meskipun sang kekasih mendeka- tinya, begitu juga dengan anak, istri atau sahabatnya pun tidak ia lihat, Memang untuk sementara waktu anak, istri dan keluarganya masih diliputi dukacita yang mendalam. Seakan-akan mereka tak mau berpisah dengan jasad yang terbujur kaku itu. Namun mungkinkah mereka bertahan dengan duka citanya? Seandainya mayat itu dibiarkan beberapa hari lagi, maka mereka tak akan tahan akan bau busuknya. Di sinilah, akhirnya jasad tubuh manusia sangat tidak berarti jika sudah ditinggalkan oleh ruhnya.
Lalu ke manakah ruh itu akan pergi?

“ Dari bumi (tanah) itulah Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu dikembalikan dan daripadanya Kami akan nengeluar-kan pada kesempatan yang lain”. [QS. Thaha 55]


Alam kubur, merupakan tempat pemberhentian ruh atau ar-wah orang yang sudah mati. Ruh itu berada di situ dalam suka atau duka. Jika selama hidupnya berperilaku baik, taat kepada Allah, maka ia akan berbahagia terus-menerus sampai datangnya Yaumul ma'ad (kiamat )

Baca Juga mengenai Hikmah Mulsim di sini.


Sumber : Buku Misteri Pintu Kematian ( Lumbang Insani ) Oleh Ust. Muhammad Baidhowi As'ad

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ingatlah Kematian Selalu Mengintaimu"

Post a Comment

dengan senang hati silahka tinggalkan komentar masukan atau kritik yang membangun